Issue
Date Log
Submitted
Mar 29, 2019
Published
Jul 8, 2019
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).
IDEOLOGI KEBANGSAAN DALAM PEMBELAJARAN KITAB KUNING DI PESANTR¬EN PKP MANADO
Corresponding Author(s) : Muh Subair
ingatbair@kemenag.go.id
Al-Qalam,
Vol. 25 No. 1 (2019)
Abstract
Inti pesantren adalah kitab kuning, yang dengannya dipastikan ada ulama yang menjadi guru dan panutan. Kitab kuninglah yang menjadi penentu kelayakan dan kesuksesan sebuah pesantren sebagai wadah pencetak ulama. Karena itu, melalui penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara, observasi dan studi pustaka. Maka tulisan ini muncul untuk memberikan gambaran pembelajaran kitab kuning di pesantren PKP Manado, yang menghasilkan temuan tentang adanya sebuah nilai kebangsaan yang tertanam sejak awal munculnya pesantren di nusantara, dan bergulir sampai saat ini. Kaum santri ternyata memelopori gerakan perlawanan terhadap penjajah dengan semangat jihad, dan jaringan santri inilah juga yang melakukan perluasan pembelajaran kitab kuning sampai ke Manado Sulawesi Utara, seperti yang di bawa oleh kiyai Mojo di Jaton, Imam Bonjol di Pineleng, dan Arsyad Thawil Albanteni di Manado. Mereka inilah yang menyebar virus-virus tradisi pembelajaran kitab kuning di tengah pluralitas masyakarat Manado, yang memunculkan ulama-ulama seperti Syekh Abdussamad Bachdar (Tumbak 1918), Syekh Abdurrahman Mulahele dan Ahmad Mulahele di Kampung Arab Manado. KH. Idris Lamande, KH. Nur Hasan Nasir, KH.Abraham, KH. Abdurrahman Latukau, KH. Hasyim Arsyad, dan KH. Fauzi Nurani. Tiga ulama yang terakhir inilah yang kemudian menjadi tenaga pengajar kitab kuning di pesantren PKP Manado yang mulai melakukan pembelajaran pada tahun 1978. Kitab-kitab yang diajarkan di pesantren PKP Manado saat ini adalah, aqidatul awwam, arba’in annwawi, fathul qarib, ta’limul muta’lim, dan nahwu sharaf. Kitab-kitab ini dipelajari setiap minggu antara magrib dan isya oleh kelas 2 dan 3 dari Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah, dengan hanya dibimbing oleh kiyai Syarif Azhar. Penyajian pembelajaran dilakukan dengan cara kiyai membaca teks kitab dan menerjemahkannya secara perlahan, lalu menjelaskan maksudnya dari berbagai perspektif, termasuk menyinggung soal kebangsaan, seperti dalam penjelasan kata tablig kitab qawaidul awwam yang menjelaskan posisi santri sebagai, pembawa pesan hikmah agar tampil ramah di antara masyarakat yang mayoritas Kristen, sebuah pesan untuk menghargai perbedaan dalam bingkai kesatuan negara Republik Indonesia.
Keywords
Kitab Kuning
Pesantren
Manado
Ulama
dan Ideologi Kebangsaan