Issue
Date Log
Submitted
Jan 8, 2016
Published
Jan 9, 2016
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).
SIJEPPU ADA PAPPASENNA TOMATOWAÉ MEMBINCANG MEDIA AHMADIYAH
Corresponding Author(s) : Husnul Fahima Ilyas
husnul_natalia@yahoo.com
Al-Qalam,
Vol. 19 No. 1 (2013)
Abstract
Tulisan ini menguraikan tentang media tulis Ahmadiyah Sijeppu Ada Pappasenna Tomatowaé yang
spesifik dengan nuansa lokal. Lektur ini diramu sedemikian rupa dengan simbol-simbol budaya lokal
untuk memperteguh ajaran Ahmadiyah, melalui pesan leluhur orang Bugis mengenai kehidupan
manusia yang saling bertikai satu sama lain, kemudian datanglah seseorang yang bisa memperbaiki
kehidupan manusia yang digelar “Topute Innong Kinnongngeâ€. Sosok tokoh To Pute Innong Kinnongnge
dikaitkan dengan ajaran Ahmadiyah semisal dalam cara memegang pemerintahan, menunjukkan
jalan kesepuluh, dan sebagai Tomanurung yang menegakkan adat dan agama di tanah Bugis. Hal ini
mengindikasikan interpretasi dari pemaknaan simbol yang digunakan sangat memudahkan dalam
memahami ajaran Ahmadiyah.
spesifik dengan nuansa lokal. Lektur ini diramu sedemikian rupa dengan simbol-simbol budaya lokal
untuk memperteguh ajaran Ahmadiyah, melalui pesan leluhur orang Bugis mengenai kehidupan
manusia yang saling bertikai satu sama lain, kemudian datanglah seseorang yang bisa memperbaiki
kehidupan manusia yang digelar “Topute Innong Kinnongngeâ€. Sosok tokoh To Pute Innong Kinnongnge
dikaitkan dengan ajaran Ahmadiyah semisal dalam cara memegang pemerintahan, menunjukkan
jalan kesepuluh, dan sebagai Tomanurung yang menegakkan adat dan agama di tanah Bugis. Hal ini
mengindikasikan interpretasi dari pemaknaan simbol yang digunakan sangat memudahkan dalam
memahami ajaran Ahmadiyah.