Issue
Date Log
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).
PENDIDIKAN BERKEADILAN GENDER (Belajar dari Pemikiran Emansipasi Qasim Amin) Gender Equitable based Education (Learning from the emancipation thought of Qasim Amin)
Corresponding Author(s) : Sarifa Suhra
Al-Qalam,
Vol. 17 No. 2 (2011)
Abstract
Islam mengakui adanya pendidikan berkeadilan gender karena pada dasarnya dalam Islam, pengetahuan
adalah suci dan mencari atan menuntutnya adalah hak dan kewajiban bagi siapa saja (pria dan wanita)
tanpa perbedaan. Tulisan ini mengkaji tentang pendidikan berkeadilan gender perspektif Islam menyoroti
pemikiran emansipasi Qasim Amin. Qasim Amin adalah salah seorangyang consent dalam dunia pemikiran
dan pembaruan Islam, melalui konsep emansipasi wanitanya ia menekankan perlunya peremption untuk
mendapatkan pendidikan setara dengan laki-laki. Hal ini didasarkan pada pengembangan historistas
Islam itu sendiri yang tidak menafikan peran perempuan dari waktu ke waktu. Di bidang pendidikan, dia
mengatakan bahwa tertinggalnya perempuan dalam pendidikan menyebabkan tertinggalnya bangsa dari
kemajuan, hal ini dikarenanakan penduduk suatu negara sekitar 50% adalah perempuan dan bagaimana
mungkin perempuan bodoh dapat mendidik anak-anak mereka. Ini berarti bahwa kemajuan suatu bangsa
terletak pada tingkat pendidikan warganya, khususnya perempuan karena perempuan lebih banyak
waktunya untuk mendidik, melatih dan membentuk karakter anak menjadi pemimpin masa depan bangsa